Jl. KH Hasyim Ashari No.58, Tangerang, Banten
PHONE :

082123457297

WHATSAPP :

6282123457297

Wisata Sejarah di Jakarta, Belajar Sembari Berwisata!

Wisata Sejarah di Jakarta – Jakarta, ibu kota Indonesia yang gemerlap dan dinamis, juga memiliki sejuta cerita di balik keindahannya. Tidak hanya dikenal sebagai pusat bisnis dan hiruk pikuk perkotaan, Jakarta juga memamerkan kekayaan sejarahnya yang tak ternilai. Dari kejayaan masa lampau hingga jejak-jejak perjalanan sejarah yang membentuknya menjadi apa yang kita lihat hari ini, kota ini menjadi magnet bagi para penggemar wisata sejarah. Jalan-jalan kuno, bangunan bersejarah, dan artefak peninggalan zaman kolonial Belanda hingga masa keemasan kerajaan Nusantara, Jakarta menawarkan petualangan yang tak ternilai bagi para pelancong yang ingin menjelajahi sejarah dan kekayaan budayanya. Mari kita telusuri lebih dalam ke dalam kisah-kisah yang tersembunyi di balik gemerlapnya kota ini.

Monas

Monumen Nasional (Monas) menjulang megah sebagai simbol kebanggaan dan keberanian bangsa Indonesia di tengah gemerlapnya Jakarta Pusat. Sebagai salah satu tempat bersejarah yang tak terbantahkan. Monas tidak hanya sekadar berdiri sebagai struktur fisik, tetapi juga menjadi wadah yang memelihara dan menceritakan kisah heroik perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan pada tahun 1945.

Jika kita menggali lebih dalam, Monas sebenarnya merupakan sebuah persembahan monumental dari Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang menghabiskan bertahun-tahun dalam proses pembangunannya.

Dengan segala upaya dan semangatnya, Monas akhirnya dirampungkan dan diresmikan pada 12 Juli 1975 oleh Presiden kedua Republik Indonesia. Soeharto membuka pintunya bagi siapa pun yang ingin menyaksikan keindahan dan makna di baliknya. Dalam perjalanan sejarahnya, Monas menjadi bukti nyata akan kegigihan dan kebesaran cita-cita bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan serta mengabadikan warisan berharga bagi generasi-generasi mendatang.

Museum Nasional

Museum Nasional Indonesia yang terletak di Jl. Merdeka Barat No.12, menawarkan pengalaman tak terlupakan hanya dalam jarak 2.2 km dari Istana Merdeka. Bagi yang ingin mengunjungi, museum ini siap membuka pintunya setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Jangan khawatir soal harga tiket masuknya, karena cukup terjangkau, yaitu Rp7.500 untuk wisatawan domestik dan Rp25.000 untuk wisatawan mancanegara.

Berdasarkan informasi dari situs resminya, Museum Nasional memamerkan koleksi yang tak kalah mencengangkan, dengan lebih dari 190.000 benda bersejarah yang terbagi dalam tujuh kategori yang berbeda. Mulai dari koleksi prasejarah, arkeologi masa klasik atau Hindu-Budha, hingga numismatik dan heraldik, keramik, etnografi, geografi, dan sejarah, setiap koleksi memiliki cerita dan nilai sejarahnya sendiri. Jadi, bagi para pencinta sejarah dan budaya, Museum Nasional Indonesia menjadi destinasi yang tak boleh dilewatkan untuk memperkaya pengetahuan dan memahami warisan budaya Indonesia yang kaya dan beragam.

Museum Lubang Buaya

Dua dekade setelah Indonesia meraih kemerdekaannya, negara ini dihadapkan pada cobaan berat dalam bentuk pemberontakan yang terjadi pada Peristiwa G30S. Museum Lubang Buaya menjadi destinasi wisata edukatif yang mengungkapkan secara detail peristiwa tragis tersebut yang terjadi pada tahun 1965. Melalui kunjungan ke museum ini, Sobat Pesona diajak untuk memahami dan menghargai pengorbanan para Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S, mereka yang dengan gagah berani memperjuangkan kesatuan bangsa Indonesia.

Bagi Sobat Pesona yang ingin mengunjungi museum ini, Anda dapat datang antara hari Senin hingga Sabtu, dengan waktu buka dari pukul 10:00 hingga 21:00 WIB. Hanya dengan membayar biaya masuk sebesar Rp5.000,-, Sobat Pesona sudah bisa menjelajahi seluruh isi museum dan melihat beragam peninggalan bersejarah yang tersimpan di dalamnya. Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan dan menghayati cerita mendalam di balik peristiwa bersejarah yang terjadi di Lubang Buaya ini.

Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal, sebagai landmark wisata religi dan bersejarah di Jakarta, menghadirkan warisan keagamaan yang membanggakan sejak dibangun pada tahun 1953 atas usulan dari KH. Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama. Terletak dalam jarak yang cukup dekat dari Istana Merdeka, hanya sekitar 1,6 km atau setara dengan 16 menit berjalan kaki.

Keberadaan masjid ini menjadikannya sebagai destinasi yang paling diminati oleh masyarakat dari berbagai kota. Alasannya cukup jelas, karena seringkali menjadi pusat ibadah bagi para pejabat hingga presiden saat melaksanakan Sholat Jumat maupun Idul Fitri.

Maka dari itu, mengapa tidak memanfaatkan kesempatan untuk datang, beribadah, dan menikmati keindahan arsitektur yang sarat akan sejarah ini? Dengan keberadaannya yang tak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga simbol persatuan dan keberagaman, Masjid Istiqlal menawarkan pengalaman spiritual dan keindahan arsitektur yang tak terlupakan bagi setiap pengunjungnya.

Gereja Katedral

Gereja Katedral Jakarta, sebagai gereja Katolik pertama di kota ini, membanggakan diri dengan arsitektur bergaya gotik yang megah. Berdiri tegak sejak diresmikan pada tahun 1901, gereja ini menyimpan tidak hanya nilai keagamaan, tetapi juga nilai sejarah yang kaya. Salah satu monumen yang mencolok di dalamnya adalah sebuah batu granit hitam yang diimpor dari Belgia, didedikasikan untuk mengenang Komisaris Jendral Leonardus Petrus Josephus Burggraaf Du Bus de Gisignies. Dalam sejarah pembangunan Gereja Katedral, sosoknya dianggap sangat berpengaruh.

Tidak hanya menarik perhatian dengan bangunan utamanya, Gereja Katedral Jakarta juga menawarkan keunikan dengan adanya museum yang dibangun di sekitarnya. Museum ini menyimpan berbagai artefak dan benda bersejarah yang terkait erat dengan sejarah Gereja Katedral itu sendiri. Dengan keberadaan museum ini, Gereja Katedral menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah; ia menjadi tujuan wisata bersejarah yang menarik bagi pengunjung yang tertarik untuk menelusuri akar sejarah dan kebudayaan Katolik di Indonesia.

Jadi, jika Anda sedang berkunjung ke Jakarta Pusat, jangan lewatkan kesempatan untuk menjelajahi Gereja Katedral Jakarta dan museumnya. Di sana, Anda akan menemukan banyak cerita menarik serta keindahan arsitektur yang tak terlupakan.

Gedung Joang 45

Dulu, Gedung Joang 45 tidak lain adalah sebuah hotel bergengsi yang bernama Hotel Schomper. Properti ini merupakan kepemilikan dari pasangan Belanda, LC Schomper dan AM Bruyn, yang berlokasi di Jalan Menteng Nomor 31, Jakarta Pusat. Namun, pada masa kedatangan pasukan Nippon atau Jepang ke Batavia pada tahun 1942, Hotel Schomper ikut berpindah tangan ke tangan Jepang.

Gedung Joang 45 terletak di Jalan Menteng Raya 31, Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Bagi yang ingin mengunjunginya, gedung ini buka pada hari Selasa hingga Minggu mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Harga tiket masuknya pun cukup terjangkau, yaitu Rp5.000,- untuk dewasa, Rp3.000,- untuk mahasiswa, dan Rp2.000,- untuk anak-anak. Melalui kunjungan ini, pengunjung dapat menyelami lebih dalam tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada masa itu, serta menghargai nilai-nilai kepahlawanan yang terkandung di dalamnya. Jadi, jangan sampai terlewatkan kesempatan untuk menjelajahi dan menghormati warisan sejarah yang tersimpan di Gedung Joang 45 ini.

Museum Taman Prasasti 

 

Museum Taman Prasasti merupakan salah satu museum yang menyimpan beragam peninggalan cagar budaya dari masa Kolonial Belanda. Terletak di Jl. Tanah Abang No.1, Jakarta Pusat, museum ini memiliki lahan seluas 1,2 hektar. Di sini juga menyajikan koleksi prasasti nisan kuno dan miniatur makam khas dari 27 provinsi di Indonesia.

Di sini, para pengunjung dapat menemukan berbagai artefak menarik, termasuk makam pualam yang dihiasi dengan motif sebuah buku. Makam ini ternyata adalah milik Dr. H.F. Roll, seorang pendiri sekolah kedokteran terkemuka di masa Hindia Belanda, yang dikenal karena kontribusinya dalam mendirikan School Tot Opleiding Ban Inlandsche Artsen (sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia).

Selain itu, di area lain, pengunjung dapat menemukan makam keluarga A.J.W Van Delden, seorang juru tulis di Indonesia Timur yang pernah memegang jabatan sebagai ketua perdagangan VOC, yang juga menjadi bagian dari koleksi bersejarah di museum ini.

Museum Taman Prasasti buka setiap hari Selasa hingga Minggu mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB. Untuk masuk ke dalam museum ini, pengunjung cukup membayar tiket dengan harga terjangkau, sekitar Rp5.000 untuk umum, Rp3.000 untuk mahasiswa, dan Rp2.000 untuk anak-anak. Dengan mengunjungi museum ini, pengunjung dapat menjelajahi jejak sejarah yang kaya. Serta memahami lebih dalam tentang warisan budaya yang terdapat di Indonesia. Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan pengalaman yang berharga di Museum Taman Prasasti

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
Call Now Button